Salah
satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa KETERTARIKAN terhadap
lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia,
baik wanita atau lelaki. Namun kalau kita tidak bisa memanage perasaan tersebut,maka
akan menjadi malapetaka yang amat besar,baik untuk diri sendiri ataupun untuk
orang yang kita sukA.
dalam sebuah hadist.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,bersabda:
فَالْعَيْنَانِ
زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ
زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ
يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
”Zina
kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina
lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh).
Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan
berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari
yang demikian.” (HR. Muslim)
“Mencuci
mata” sudah menjadi kebiasaan dan budaya banyak orang terutama di kalangan para
muda. Nongkrong di pinggir jalan untuk “mencuci mata”, menikmati pemandangan
alam yang indah dan penuh pesona sudah menjadi adat sebagian orang. Namun yang
menjadi pertanyaan adalah alam apakah yang sedemikian indahnya sehingga
menjadikan para pemuda begitu banyak yang tertarik dan terkadang mereka
nongkrong hingga berjam-jam? Ternyata alam tersebut adalah wajah manis para
wanita..hhaa :D Apalagi sampai terlontar dari sebagian mereka pemahaman bahwa
memandang wajah manis para wanita merupakan ibadah dengan dalih, “Saya tidaklah
memandang wajah para wanita karena sesuatu (hawa nafsu), namun jika saya
melihat mereka saya berkata, “Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling
Baik”(hadeuuuhhh..ngeLeeeess aja bisanya :p (udah jelas2 yg dilihat tuuh wanita
:D
Ini jelas
merupakan racun syaithan yang telah merasuk dalam jiwa-jiwa sebagian kaum
muslimin. Pada hakekatnya istilah yang mereka gunakan (cuci mata) merupakan
istilah yang telah dihembuskan syaithan pada mereka. Istilah yang benar adalah
“Ngotori mata”.
Kali ini saya akan ungkapkan adab-adab
bergaul dengan lawan jenis,diantaranya ttg jaga
pandangan,berholwat,ikhtilat,dll.salah satu yg akan di bahas pada minggu ini
mengenai”GHADUL BASHAR”.hmm..bagi sebagian teman2 mungkin merasa asing dgn
istilah ini??!!yukk kita bahas klo gtu,saatnya ke TeKaPe ..hhe:P
=>Makna Menahan Pandangan
Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau
Menundukkan Pandangan.Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan
mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja :D
karena bukan ini yang dimaksudkan,,Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan
tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah
apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain lalu ia tidak
mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan
tidak memelototi apa yang dilihatnya . Dengan kata lain menahan dari apa yang
diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk kita memandangnya.
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada
wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya.”
(QS.An-Nur: 30-31)
Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata min dalam “min
absharihim” maknanya adalah sebagian,,untuk menegaskan bahwa yang
diharamkan oleh Allah swt hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau
disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي (رواه مسلم).
Dari
Jarir bin Abdillah ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang
pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk
memalingkannya. (HR. Muslim).
=>Maksudnya
jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu
dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.
((لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ)).
(رواه مسلم وأحمد وأبو داود والترمذي).
Seorang
laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak
boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bersatu
(bercampur) dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan seorang perempuan
tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian. (HR.
Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi).
((يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ))
[رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].
Wahai
Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena
yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR.
Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani).
((الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ)) [متفق عليه].
Dua mata itu
berzina, dan zinanya adalah memandang. (Muttafaq
‘alaih).
=>yuuk kita biasakan ghadhul bashar ^_^
GA : Gaul boleh-boleh aja
genk, tapi kudu tetap nyar’i lho, jangan coba-coba mendobrak norma dan
etika..ntar bisa celaka ding! buahayoo..
D :
Dimulakan dengan Basmallah, disudahi dengan Alhamdulillah, Begitulah sehari
dalam hidup kita mudah-mudahan diberkahi Allah.(Lho? inikan lagunya RAIHAN!
silahkan dilanjutkan:) Pokeke dalam bergaul, Allah jangan dilupakan deh, lage
pula Allah ada dimana-mana koq jd qt kudu takut kalo berbuat yang gak di ridhoi
Allah. Biarin deh dicuekin makhluk asal Allah gak nyuekin qt.
H :
Hati-hati jaga hati !! jangan sampe hati qt yang berwarna merah berubah jadi
merah jambuu..hehe. Alasannya cuma temen but dihati siapa yang tau…?karena si
syetan bisa menyamarkan niat qt yang bila gak diimunkan bisa terjangkit virus
MJ.
U :
Utamakan hubungan dalam urusan kebaikan dan ketakwaan, bukan yang beraroma dosa
dan yang sia-sia.
L :
Lupakan yang buruk, ambillah yang baik. Tiada yang lebih berharga dari cinta
karena Allah semata. Sucikan niat menyongsong ukhuwah nan indah.
A :
Awas sekali kena panah asmara, hati yang kuatpun akan meleleh. Tesss…habis deh!
Qt kudu jeli menghindari panah-panah setan. Sekali ditancap panah asmara,
keracunan bakalan lama, orang sekampung bisa kena imbasnya..parah coy!
S :
Sekali-kali jangan main api kalo takut terbakar!! hiii takuut..Jangan pelihara
kalo udah ada virus MJ bercokol di hati, bisa berabe, cepat-cepat diobati
dengan antibiotik keimanan.
H :
Harus tegas pada diri sendiri jika gejala-gejala keluar jalur sudah mulai
terasa.Taubat bila terlanjur bergelimang resah gelisah yang gak sah! nurani
tidak akan membohongi kita.
A :
Awasi bisik-bisik bujuk dari The big boss of trouble maker : Iblis! sekali
terbujuk alamat bakal dihajarr malapetaka. Ayoo..usir jauh-jauh tuh musuh,
jangan dipelihara.
R :
Rajin-rajin ngaji ya?! biar slalu ada yang mengingatkan qt ke jalan aman
sentosa dan sejahteraaa…
SeLaMaT GaDhUL BAsHAR… ^_^
**BERSAMBUNG….
Catatan Kaki:
Berasal dari kata غَضَّ yang berarti كَفَّ (menahan)
atau نَقَصَ (mengurangi) atau خَفَضَ (menundukkan).
Lihat: Tajul ‘Arus 1/4685, dan Maqayisul Lughah 4/306.
Yusuf Al-Qaradhawi, Halal & Haram, hlm 171.
Tafsir At-Thabari 19/154, Ibnu Katsir 6/41.
Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, Al-Qurthubi, 1/3918.
Bismillahirrohmanirrohim..
melanjutkan”tentang
pergaulan dgn lawan jenis”pada minggu kemarin kita bahas
tentang”GADHUL BASHAR/jaga pandangan”.
Naah..minggu ini kita lanjutin pembahasannya yaa!!*di baca yaaa!!*
#Dilarang untuk berkholwat
(berdua-duan)
TTM.. teman tapi mesra*katanya
:P*
kemana-mana bareng, ke kantin bareng, berangkat ngampus bareng, pulang ngampus
barengg. Hal ini merupakan gambaran remaja umumnya saat ini,di mana batas-batas
pergaulan ditmpat umum sudah sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam.
Namun tidak mengapa kita ngampus kan berada lingkungan umum niih yeh..kita
tetap bisa menjaga adab-adab bergaul dengan lawan jenis. Jika ada seorang
laki-laki berduaan dengan seorang perempuan maka yang ketiga sebagai
pendampingnya adalah ??
*S.e.t.a.n*!!!.
Dari
‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu
perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ
يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا
“Janganlah
salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan
mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga
dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang
mukmin." (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)
Daripada
setan yang menemani kita lebih baik malaikat bukan? Ngaji,membaca Al Quran dan
memahami artinya serta menuntut ilmu agama InsyaAllah malaikatlah yang akan
mendampingi kita.Tentu sebagai wanita yang cerdas, kita akan lebih memilih
untuk didampingi oleh malaikat.
#Jaga aurat terhadap lawan
jenis
Jagalah aurat kita dari
pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Maksudnya mahram di sini adalah
laki-laki yang haram untuk menikahi kita. Yang tidak termasuk mahram seperti
teman sekolah, teman bermain, teman pena bahkan teman dekat pun kalau dia bukan
mahram kita, maka kita wajib menutup aurat kita dengan sempurna. Maksud
sempurna di sini yaitu kita menggunakan jilbab yang menjulur ke seluruh
tubuh kita dan menutupi dada. Kain yang dimaksud pun adalah kain yang
disyariatkan, misal kainnya tidak boleh tipis, tidak boleh sempit, dan tidak
membentuk lekuk tubuh kita. Adapun yang bukan termasuk aurat dari seorang
wanita adalah kedua telapak tangan dan muka atau wajah.
Allah Swt. berfirman:
“Janganlah mereka menampakkan perhiasannya
selain yang biasa tampak padanya. Hendaklah mereka menutupkan kerudung (khimar)
kebagian dada mereka.. (QS an-Nur [24]: 31)
“Wahai Nabi, katakanlah kepada
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin, hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا
خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
"Wanita itu adalah aurat. Jika
dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki."
(HR. Tirmidzi, shahih)
#Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria)
Kerjasama antara laki-laki dan wanita hendaknya bersifat umum dalam
urusan muamalat (misalnya pendidikan, perniagaan dll) , bukan hubungan yang bersifat khusus.
(misalnya jalan-jalan bersama dll)
=>>*mungkin setelah baca ini semua,antum/na berkata:”Ah,
kok kayaknya ribet banget sich aturan islam…berteman sama lawan jenis aja
ribetnya minta ampun …jangan inliah..jangan itu…harus
inilah..harus itulahL
hmm, kenapa ya, dalam interaksi antara dua lawan jenis ini harus ada aturan
mainnya??
>>Allah Yang Maha Meciptakan kita
sungguh betapa Ia yang paling mengerti tentang kita,,Manusia ciptaan-Nya,,,yang
memiliki
gharizah an-naw’ (naluri seksual) memang perlu diberi aturan,untuk menjaga
naluri ini agar hanya disalurkan dengan cara yang alami. cara yang benar sesuai
dengan yang dikehendaki-Nya. karena apabila naluri ini dipenuhi tanpa aturan
atau dengan peraturan yang bukan berasal dari-Nya, maka akan timbul yang
namanya “kesengsaraan”
Buktinya????
(silahkan cek diberita, tiada hari tanpa
kasus yang disebabkan adanya penyimpangan interaksi ini)
“astaghfirullah..”sangat mengerikan…
Pasti kita tidak mau kan merasakannya
kan?!!
Aturan-aturan itu sebenarnya tidaklah ribet seperti apa yang kita
pikirkan, jangan merasa terkekang olehnya, justru sesungguhnya peraturan itu
yang membuat kita lebih terjaga, bagi wanita akan lebih terjamin kehormatannya dll.
Dalam kehidupan umum, adanya ijtima (pertemuan dan interaksi antara pria dan
wanita) adalah sesuatu yang pasti dan hal ini tak mungkin dihindari. dan Islam
menetapkan sifat ‘iffah (menjaga
kehormatan) sebagai suatu kewajiban yang harus dipegang teguh oleh kita.
*the end*
Tauhid
13.26
| Author:
badaris cikarang
Tauhid adalah sesuatu yang sudah akrab di telinga
kita. Namun tidak ada salahnya kita mengingat beberapa keutamaannya. Karena
dengan begitu bisa menambah keyakinan kita atau meluruskan tujuan sepak terjang
kita yang selama ini yang mungkin keliru. Karena melalaikan masalah tauhid akan
berujung pada kehancuran dunia dan akhirat.
Tujuan Diciptakannya Makhluk Adalah untuk Bertauhid
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan tidaklah Aku
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz
Dzariyaat: 56). Imam Ibnu Katsir
rohimahulloh berkata, yaitu tujuan
mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan
karena Aku membutuhkan mereka (
Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir
surat Adz Dzariyaat).
Makna menyembah-Ku dalam ayat ini adalah mentauhidkan Aku, sebagaimana
ditafsirkan oleh para ulama
salaf.
Tujuan Diutusnya Para Rasul Adalah untuk Mendakwahkan Tauhid
Allah Ta’ala berfirman,
“Sungguh telah Kami
utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan
tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36).
Thoghut adalah
sesembahan selain Allah. Syaikh As Sa’di berkata, Allah Ta’ala memberitakan
bahwa hujjah-Nya telah tegak kepada semua umat, dan tidak ada satu umatpun yang
dahulu maupun yang belakangan, kecuali Allah telah mengutus dalam umat tersebut
seorang Rasul. Dan seluruh Rasul itu sepakat dalam menyerukan
dakwah
dan agama yang satu yaitu beribadah kepada Allah saja yang tidak boleh ada
satupun sekutu bagi-Nya (
Taisir Karimirrohman, Tafsir
surat An Nahl). Beribadah kepada Allah dan
mengingkari
thoghut itulah hakekat makna tauhid.
Tauhid Adalah Kewajiban Pertama dan Terakhir
Rasul memerintahkan para utusan dakwahnya agar
menyampaikan tauhid terlebih dulu sebelum yang lainnya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala
‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar
mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim). Nabi juga
bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh
niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al
Albani dalam Irwa’ul Gholil).
Tauhid Adalah Kewajiban yang Paling Wajib
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi orang-orang
yang Dia kehendaki.” (An Nisaa’: 116). Sehingga syirik menjadi larangan
yang terbesar. Sebagaimana syirik adalah larangan terbesar maka lawannya yaitu
tauhid menjadi kewajiban yang terbesar pula. Allah menyebutkan kewajiban ini
sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh hamba. Allah Ta’ala
berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan
sesuatu apapun, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.” (An Nisaa’: 36)
Kewajiban ini lebih wajib daripada semua kewajiban, bahkan lebih wajib
daripada berbakti kepada orang tua. Sehingga seandainya orang tua memaksa
anaknya untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati. Allah berfirman,
“Dan
jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya…” (Luqman: 15)
Hati yang Saliim Adalah Hati yang Bertauhid
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ketahuilah
di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh
tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).
Allah Ta’ala berfirman,
“Hari dimana harta dan keturunan tidak bermanfaat
lagi, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang saliim (selamat).”
(Asy Syu’araa’: 88-89). Imam Ibnu Katsir
rohimahulloh berkata, yaitu
hati yang selamat dari dosa dan kesyirikan (
Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim,
Tafsir
surat Asy
Syu’araa’). Maka orang yang ingin hatinya bening hendaklah ia memahami tauhid
dengan benar.
Tauhid Adalah Hak Allah yang Harus Ditunaikan Hamba
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hak Allah
yang harus ditunaikan hamba yaitu mereka menyembah-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…” (Riwayat Bukhori dan Muslim).
Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya artinya mentauhidkan Allah dalam
beribadah. Tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam
beribadah, sehingga wajib membersihkan diri dari syirik dalam ibadah. Orang
yang tidak membersihkan diri dari syirik maka belumlah dia dikatakan sebagai
orang yang beribadah kepada Allah saja (diringkas dari
Fathul Majid).
Ibadah adalah hak Allah semata, maka barangsiapa menyerahkan ibadah kepada
selain Allah maka dia telah berbuat
syirik. Maka orang yang ingin menegakkan
keadilan dengan menunaikan hak kepada pemiliknya sudah semestinya menjadikan
tauhid sebagai ruh perjuangan mereka.
Tauhid Adalah Sebab Kemenangan di Dunia dan di Akhirat
Para sahabat dari kalangan Muhajirin dan
Anshor
radhiyallahu ta’ala ‘anhum adalah bukti sejarah atas hal ini.
Keteguhan para sahabat dalam mewujudkan
tauhid
sebagai ruh kehidupan mereka adalah contoh sebuah generasi yang telah
mendapatkan jaminan surga dari Allah serta telah meraih kemenangan dalam
berbagai
medan
pertempuran, sehingga banyak negeri takluk dan ingin hidup di bawah naungan
Islam. Inilah generasi teladan yang dianugerahi kemenangan oleh Allah di dunia
dan di akhirat.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu (masuk
Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah telah ridho kepada mereka dan mereka pun telah ridho kepada
Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang
besar.” (At Taubah: 100)
Namun sangat disayangkan, kenyataan umat Islam di zaman ini yang diliputi
kebodohan bahkan dalam masalah
tauhid! Maka pantaslah kalau kekalahan demi
kekalahan menimpa pasukan Islam di masa ini. Ini menunjukkan bahwa ada yang
salah dalam akidah.
Wallahu A’lam bish showaab.
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel
www.muslim.or.id